Sejarah MAN Insan Cendekia Siak

Gedung Pusat Pembelajaran Terpadu

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran,melalui dorongan aktif kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya.Pendidikan membentuk pribadi yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan,pengendalian diri,kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia,serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.


Pendidikan memegang peranan penting dan strategis dalam pembangunan peradaban manusia. Keberhasilan pembangunan tatanan masyarakat sangat dipengaruhi oleh mutu penyelenggaraan pendidikan. Sejarah menunjukkan bahwa pendidikan memberikan manfaat bagi kemajuan peradaban bangsa.Pendidikan menjadi instrument dasar dalam meraihkesuksesan, kesejahteraan,dan kebahagiaan. Karena itu,pendidikan diyakini sebagai investasi yang paling berharga dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)


Pendidikan adalah salah satu kebutuhan penting bagi manusia untuk menjalani hidupnya. Tantangan demi tantangan yang dihadapi di setiap zamannya dapat diselesaikan dengan adanya pendidikan. Seperti saat ini, manusia sangat membutuhkan keterampilan atau kecapakan agar dapat bersaing di era globalisasi, yang mana keterampilan itu didapat dari bangku sekolah atau pendidikan. Di sisi lain, penyiapan untuk generasi muda untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) juga harus dilaksanakan dengan baik oleh institusi-institusi pendidikan agar anak Indonesia mampu bersaing dengan pemuda/i dari negara tetangga. Oleh sebab itu, pendidikan harus diusahakan semaksimal mungkin agar cita-cita luhur itu dapat terlaksana.


MAN Insan Cendekia adalah model satuan pendidikan jenjang menengah yang memadukan antara Pendidikan Agama Islam dengan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi secara seimbang. Dengan keterpaduan tersebut,MAN Insan Cendekia diharapkan menjadi pelopor upaya menghilangkan dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. MAN Insan Cendekia menempatkan etika Islam yang bersumber pada nilai-nilai universal al-qur’an dan al-hadis untuk menjiwai seluruh bidang keilmuan yang diajarkan. Islam mengembangkan ilmu yang bersifat universal antara ilmu-ilmu qauliyyah yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan teks keagamaan, seperti al-qur’an, al-hadis,akidah akhlak, fikih dengan ilmu-ilmu kauniyah, yaitu sains dan ilmu-ilmu empiris-kemasyarakatan.


Pengkajian dan pendalaman keilmuan berangkat dari paradigmab humanistik-etis dengan dukungan strategi yang terpadu. Ilmu-ilmu yang akan diajarkan di MAN Insan Cendekia, jika didasarkan pada nomenklatur keilmuan yang telah ada pada Standar Isi, terdiri atas ilmu humaniora (bahasa, sejarah umum dan kebudayaan Islam, demografi), ilmu sosial (sosiologi, ekonomi, geografi sosial) dan ilmu alam (fisika, kimia, biologi, geografi fisik), yang kajian-kajiannyadipadukan dengan ilmu al-qur’an dan al-hadis)


Pengkajiannya dilakukan secara collaborative, critical thinking, creativity, communicative (C4) sehingga dapat diinterpretasi secara terus menerus seiring dengan perkembangan zaman. Nilai-nilai universal yang terkandung dalam al-qur’an dan al-hadis menjadi pijakan dan pandangan hidup yang menyatu dalam satu tarikan nafas keilmuan dan keagamaan yang diabdikan bagi kemaslahatan umat manusia. Keterpaduan keilmuan ini akan diwujudkan dan dikembangkan dalam pembelajaran di dalam ruang belajar dan/atau di luar aktivitas ruang belajar.


Keterpaduan ini diharapkan dapat melahirkan lulusan MAN Insan Cendekia yang kuat akidah dan pengetahuan keagamaannya (tafaqquh fiddin), luas dan kritis pemikiran, serta moderat perilaku keagamaan ditunjang dengan penguasaan kompetensi yang ditargetkan. Pada gilirannya lulusan MAN lnsan Cendekia dapat beradaptasi dan mampu belajar dengan baik di perguruan-perguruan tinggi terkemuka, baik di dalam maupun luarnegeri dan bermanfaat bagi kehidupan di masyarakat sehingga mampu meneguhkan dirinya sebagai sosok muslim yang rahmatan lil alamin.


Keunggulan MAN Insan Cendekia dibanding madrasah lainnyaadalah: Pertama,pengembangan kurikulum dan pembelajaran mengacu kepada standar mutu di atas standar nasional pendidikan dan berbasis keunggulan lokal; Kedua, dikelola berbasis Teknologi lnformasi dan Komunikasi (TIK), dengan dukungan pendidik dan tenaga kependidikan yang memenuhi kualifikasi yang disyaratkan; Ketiga, fasilitas pembelajaran yang tersedia memenuhi persyaratan kesehatan, keselamatan, kenyamanan, dan keamanan; Keempat, peserta didik wajib tinggal di asrama madrasah yang dikelola secara profesional; Kelima, mewajibkan peserta didikberkomunikasi sehari-hari di lingkungan madrasah dengan menggunakan bahasa Indonesia, danbahasa internasional.


Pada tahun 2015, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia hadir di Riau, lebih tepatnya di Kabupaten Siak Sri Indrapura. Terinspirasi oleh MAN Insan Cendekia yang sebelumnya telah beroperasi dan melahirkan prestasi-prestasi di kancah nasional dan internasional, pemerintah berupaya untuk mendesiminasikan program ini ke provinsi lain yang ada di Indonesia. MAN Insan Cendekia Siak hadir dalam format pendidikan Boarding School atau sekolah berasrama yang menekankan pentingnya Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK) yang diselaraskan dengan pengembangan Iman dan Takwa (IMTAK). Lebih jauh lagi, MAN Insan Cendekia Siak ingin meneruskan tradisi mencetak kader-kader calon pemimpin bangsa berkualitas di masa mendatang seperti yang telah diamanahkan undang-undang.


MAN Insan Cendekia adalah model satuan pendidikan jenjang menengah yang memadukan Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan pengayaan pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai ciri khas utamanya. Keunggulan MAN Insan Cendekia dibanding madrasah lainnya adalah: Pertama, pengembangan kurikulum dan pembelajaran mengacu kepada standar mutu di atas standar nasional pendidikan dan berbasis keunggulan lokal; Kedua, dikelola berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), dengan dukungan pendidik dan tenaga kependidikannya memenuhi kualifikasi yang disyaratkan; Ketiga, fasilitas pembelajaran yang tersedia memenuhi persyaratan kesehatan, keselamatan, kenyamanan, dan keamanan; Keempat, peserta didik wajib tinggal di asrama (Asrama Insan Cendekia) yang dikelola secara profesional; Kelima, mewajibkan peserta didik berkomunikasi sehari-hari di lingkungan madrasah dengan meggunakan bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab.


Terdapat dua sistem pendidikan yang selama ini telah berjalan di lingkungan Kementerian Agama, yaitu sistem persekolahan (madrasah) dan sistem pendidikan berasrama (Pondok Pesantren). Dalam praktek sistem persekolahan (Madrasah) berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan umum, sehingga penguasaan ilmu ke-Islaman belum optimal, sementara sistem pondok pesantren lebih berorientasi pada penguasaan ilmu-ilmu keislaman (Islamic Studies), sehingga penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi kurang optimal. Walaupun sudah ada yang berhasil menyeimbangkannya. Hal tersebut mendorong pentingnya ketersediaan pendidikan yang mampu meminimalisasi kelemahan dari kedua model pendidikan tersebut.


Kehadiran MAN Insan Cendekia yang memiliki kekhasan dan keunggulan yang kuat diharapkan mampu memadukan kedua sistem pendidikan tersebut, yaitu berorientasi pada sains-teknologi dan ilmu agama Islam (tafaqquh fiddin) yang bertumpu pada tiga peradaban (hadlarah), yaitu Peradaban Teks, Kitab (hadlaratun-nash), Peradaban Ilmu (hadlaratul ilmi) dan Peradaban Filsafat (hadlaratul-falsafah) sangat tepat dilakukan. Dengan keterpaduan tersebut, MAN Insan Cendekia diharapkan menjadi pelopor upaya menghilangkan dikotomi ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama ini terjadi dalam pendidikan Islam di Indonesia. MAN Insan Cendekia menempatkan etika Islam yang bersumber pada nilai-nilai universal al-Qur’an dan al-Hadis untuk menjiwai seluruh bidang keilmuan yang diajarkan. Islam mengembangkan ilmu yang bersifat universal dan tidak mengenal dikotomi, antara ilmu-ilmu qauliyyah (hadlaratun-nash) yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan teks keagamaan, seperti al-Qur’an al-Hadis, akidah akhlak, fikih) dengan ilmu-ilmu kauniyah-ijtima’iyah (hadlaratul-‘ilm), yaitu ilmu-ilmu empiris-kemasyarakatan, seperti sejarah, sosiologi, antropologi, ekonomi dan juga dengan ilmu-ilmu filsafat (hadlaratul-falsafah). Ketiga wilayah keilmuan tersebut dikaji secara mendalam dan terpadu.


Pengkajian dan pendalaman keilmuan berangkat dari paradigma humanistik-etis dengan dukungan strategi yang terpadu. Ilmu-ilmu yang akan diajarkan di MAN Insan Cendekia, jika didasarkan pada nomenklatur keilmuan yang telah ada pada Standar Isi, terdiri atas ilmu humaniora (bahasa, sejarah umum dan kebudayaan Islam, demografi), ilmu sosial (sosiologi, ekonomi, geografi sosial) dan ilmu alam (fisika, kimia, biologi, geografi fisik), yang kajian-kajiannya dipadukan dengan ilmu al-Qur’an dan al-Hadis.


Pengkajiannya dilakukan secara kreatif dan hermeneutik sehingga dapat diinterpretasi secara terus menerus seiring dengan perkembangan zaman. Nilai-nilai universal yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-Hadits menjadi pijakan dan pandangan hidup (view of life) yang menyatu dalam satu tarikan nafas keilmuan dan keagamaan yang diabdikan bagi kemaslahatan umat manusia. Keterpaduan keilmuan ini akan diwujudkan dan dikembangkan dalam pembelajaran di dalam kelas dan aktivitas di luar kelas.


Keterpaduan ketiga bidang peradaban (hadlarah) ini diharapkan dapat melahirkan lulusan MAN Insan Cendekia yang kuat aqidah dan pengetahuan keagamaannya (tafaqquh fiddin), luas dan dalam pemikirannya, serta menguasai kompetensi yang ditetapkan. Pada gilirannya lulusan MAN Insan Cendekia dapat diterima di perguruan-perguruan tinggi terkemuka, baik di dalam maupun luar negeri dan bermanfaat bagi kehidupan di masyarakat