Kurikulum MAN Insan Cendekia Siak

Kurikulum dan Pembelajaran


Kurikulum merupakan bagian yang sangat penting dalam lembaga pendidikan. Proses pencapaian tujuan lembaga pendidikan bergantung pada kurikulum yang digunakan. Kurikulum madrasah harus dikembangkan secara terarah, terpadu, dansistematis, dengan harapan peserta didik dapat tumbuhkembang mandiri danmendapatkan perlindungan dan bimbingan dari guru yang penuh perhatian danbermotivasi tinggi, didukung oleh keluarga dan masyarakat dalam mewujudkan suasanabelajar dan proses pembelajaran yang Aktif-Inovatif Kreatif-Efektif-Menyenangkan (PAI KEM).


Pengembangan kurikulum dan pembelajaran MAN Insan Cendekia dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Mengembangkan budaya madrasah yang peduli lingkungan dan mengedepankannilai-nilai agama Islam dan nilai luhur bangsa
  2. Menerapkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dankemampuan serta cara belajar peserta didik
  3. Menerapkan model pembelajaran abad 21
  4. Melibatkan peran serta keluarga, masyarakat sekitar dan pihak-pihak lainnya

MAN Insan Cendekia melaksanakan kurikulum nasional yang ditetapkan oleh pemerintah yang dimodifikasi sesuai denganvisi, misi, tujuan dan target madrasah. Modifikasi kurikulum tersebut berupa penguatan konsep dasar penguasaan IPTEK (basicknowledge of science and technology) dan kurikulum  khas bidang keasramaan.

Struktur Kurikulum

Struktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam bentuk mata pelajaran,distribusi mata pelajaran tiap semester atau tahun, beban belajar untuk mata pelajaran dan beban belajar per minggu untuk setiap peserta didik. Kurikulum MAN Insan Cendekia merupakan kurikulum terintegrasi yang pembelajarannya dilaksanakan pada pagi, siang, dan malam hari. Pembelajaran pagi haridan siang hari diutamakan untuk seluruh mata pelajaran sesuai kurikulum nasional (kurikulum 2013), sedangkan pembelajaran malam hari untuk pembelajaran AgamaIslam yang bersifat aplikatif dan psikomotorik.


Secara umum struktur kurikulum MAN Insan Cendekia mengacu pada Kurikulum 2013 dari pemerintah (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sertaKementerian Agama).Sebagai madrasah yang memiliki keunggulan dibidang akademik maka struktur kurikulum MAN InsanCendekia merujuk pada Keputusan Menteri Agama Nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Madrasah. Disamping struktur kurikulum dengan sistem paket, MAN Insan Cendekia juga dapat menyelenggarakan layanan pendidikan dengan Sistem Kredit Semester (SKS). 


Ketentuan penyelenggaraan SKS mengacu kepada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 158 Tahun 2015 tentang  Penyelenggaraan Sistem  Kredit Semester  pada Pendidikan Dasar dan Menengah  serta Keputusan  Direktur Jenderal  Pendidikan  Islam Nomor2852 Tahun  2019 tentang Petunjuk  Teknis Penyelenggaraan  Sistem  Kredit Semester pada Madrasah Aliyah, sertaketentuan lain yang relevan.

Beban Belajar

Beban belajar pada MAN Insan Cendekia mengacu pada ketentuan dari pemerintah yang termaktub dalam struktur kurikulum. Dalam rangka penguatan konsep dasar penguasaan IPTEK (basic knowledge of science and technology) dan kurikulum khas bidang keasramaan, maka MAN Insan Cendekia dapat melakukan modifikasi kurikulum (termasuk beban belajar siswa) sesuai dengan visi, misi, tujuan, dan target madrasah, dengan catatan mendapat pengesahan dalam bentuk SK dari Dirjen Pendidikan Islam.

Muatan Lokal

Muatan Lokal adalah kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah serta kekhasan satuan pendidikan, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran.Muatan lokal yang dikembangkan mencakup life skill, dan menunjang visi dan misi madrasah serta mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah yang menyenangkan bagipeserta didikyang menjalaninya. Muatan lokal dapat berupa Karya Tulis Ilmiah,Pendidikan Kependudukan Lingkungan Hidup (PKLH), Tahfidz AlQur'an, dan bentuk kegiatan lainnya yang disesuaikan dengan potensi lokal.

Peminatan

Peminatan adalah suatu keputusan yang dilakukan peserta didik untuk memilih kelompok mata pelajaran sesuai minat,bakat, dan kemampuan selama mengikuti pembelajaran pada jenjang pendidikan menengah. Pemilihan peminatan dilakukan atas dasar kebutuhan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Kelompok peminatan bagi peserta didik yang diselenggarakan olehMAN Insan Cendekiaadalah peminatan MIPA (Matematika-Ilmu Pengetahuan Alam) dan peminatan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Peminatan program studi dilaksanakan pada awal semester 1, Penentuan peminatan peserta didik didasarkan pertimbangan berikut:

  1. Prestasi belajar peserta didik yang diperoleh selama di MTs/SMP
  2. Prestasi ujian nasional (UN) yang di peroleh di MTs/SMP
  3. Prestasi non akademik yang diperoleh selama di MTs/SMP
  4. Minat belajar peserta didik yang diperoleh dari angket inventori minat pada saat pendaftaran
  5. Potensi minat dan bakat peserta didik yang diperoleh dari tespeminatan olehpsikolog
  6. Hasil wawancara dengan orangtua/wali peserta didik yang berhubungan dengan peminatan putra/putrinya

Pendekatan Pembelajaran

Pembelajaran dikembangkan dengan pendekatan saintifik, dengan pemilihan materi berbasis fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika, berbasis konsep dan teori, interaksi guru dan peserta didik dilandaskan pada kebenaran, menginspirasi  peserta didik untuk berfikir  kritis, rasional, objektif. Untuk itu, model pembelajaran yang dikembangkan adalah:

  1. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Leaming)yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai  suatu  konteks bagi  siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran.  Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yangberkaitan dengan pertanyaan, mensintesa, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain
  2. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Leaming) merupakan strategi  pembelajaran dengan melibatkan peserta didik dalam tugas tugas otentik dan dunia nyata, dengan  karakteristik: (a) peserta didik membuat keputusan dan membuat kerangkakerja, (b) terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya, (c) peserta didik merancang proses untuk mencapai hasil, (d) peserta  didik bertanggungjawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan, (e) melakukan evaluasi secara berkelanjutan, (g) hasil akhir berupa produk yang  dievaluasi kualitasnya, dan (h) kelas memiliki atmosfer yang  memberi toleransi kesalahan dan perubahan.
  3. Belajar Berbasis Kerja (Work-Based Leaming) yang memerlukan suatupendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja  untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di dalamtempat kerja. Jadi dalam hal ini tempat kerja atau sejenisnya dan dipadukan dengan materi pelajaran untuk berbagai aktivitas kepentingan siswa.Belajar Kooperatif (Cooperative Leaming) yang memerlukan pendekatan pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untukbekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
  4. Moving Class merupakan pola pengelolaan kelas berbasis atmosfir mata pelajaran untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaranyang dapat mendorong peserta didik aktif mencari dan menemukan kelas sesuai minat, bakat, kompetensi yang harus dimiliki peserta didik.
  5. Praktik Lapangan merupakan pelaksanaan pembelajaran dialam yangbertujuan untuk membantu peserta didik mengembangkan kinerja sesuai dengan kompetensi pembelajaran.
  6. Pelayanan Team Teaching merupakan suatu pelayanan pembelajaransecara tim dari setiap rumpun atau kelompok mata pelajaran, dalam rangka optimalisasi pelayanan kepada peserta didik. Setiap guru memiliki peranan dan tanggungjawab yang sama, saling mendukung dalam rencana  pengelolaan kelas, pelaksanaan pembelajaran di kelas dan penilaian.